Energi dan Lingkungan dalam Lima Indikator
Slideshow ini menampilkan satu bingkai untuk setiap indikator energi dan lingkungan: emisi CO2 per kapita, konsumsi energi per kapita, pangsa energi terbarukan, akses listrik, dan tutupan hutan. Setiap bingkai memuat grafik batang peringkat, nilai serta peringkat Indonesia, dan garis tren negara ini. Seluruh angka berasal dari World Development Indicators milik World Bank.
| CO2 emissions per person | 109 | Emisi CO2 per kapita Indonesia 2,865 t, peringkat 109 dari 203 negara/wilayah |
| Energy use per person | 81 | Konsumsi energi per kapita Indonesia 982,4149 kg setara minyak, peringkat 81 dari 179 negara |
| Renewable energy share | 106 | Pangsa energi terbarukan Indonesia 20,2%, peringkat 106 dari 212 negara/wilayah |
| Access to electricity | 140 | Akses listrik Indonesia 99,4%, dibanding rata-rata dunia 91,5992% |
| Forest area | 56 | Tutupan hutan Indonesia 47,722% dari luas daratan, peringkat 56 dari 214 negara/wilayah |
Bacalah tiap bingkai secara terpisah: satuan berbeda (t, kg setara minyak, %), jumlah negara pembanding berbeda (179 hingga 216), dan tahun terbarunya pun berbeda. Arah peringkat juga tidak sama — pada CO2 dan konsumsi energi peringkat 1 berarti nilai terkecil, pada tiga indikator lainnya peringkat 1 berarti nilai terbesar — sehingga peringkat antar bingkai tidak boleh dibandingkan langsung.
Poin Utama
Dalam tema energi dan lingkungan, Indonesia berada di posisi yang secara umum lebih "hemat" daripada rata-rata dunia, tetapi arah pergerakannya berbeda-beda antar indikator. Emisi CO2 per kapita tercatat 2,865 t (2024), menempatkan Indonesia pada peringkat 109 dari 203 negara/wilayah — perlu dicatat bahwa pada indikator ini peringkat 1 berarti emisi paling sedikit — dan nilainya sekitar 61% dari rata-rata dunia 4,6933 t. Konsumsi energi per kapita 982,4149 kg setara minyak juga hanya sekitar separuh rata-rata dunia 1.866,1646 kg, sementara akses listrik sudah mencapai 99,4% (2023), jauh di atas rata-rata dunia 91,5992%. Sisi lain yang perlu diperhatikan: pangsa energi terbarukan 20,2% kini hanya tipis di atas rata-rata dunia 19,7356%, dan tutupan hutan 47,722% dari luas daratan (peringkat 56 dari 214) — masih di atas rata-rata dunia 31,143%, tetapi keduanya menurun dibanding satu dekade lalu.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5, EG.USE.PCAP.KG.OE, EG.FEC.RNEW.ZS, EG.ELC.ACCS.ZS, AG.LND.FRST.ZS (https://data.worldbank.org/indicator/EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5)*
Nilai Terbaru Indikator Utama
Indikator pertama dalam edisi ini adalah emisi CO2 per kapita (tidak termasuk LULUCF). Nilai Indonesia adalah 2,865 t pada 2024, dengan peringkat 109 dari 203 negara/wilayah. Arah peringkat perlu dipahami lebih dulu: pada indikator ini peringkat 1 diberikan kepada nilai terkecil (Nauru dan Tuvalu, 0,0 t), sehingga peringkat 109 berarti ada 108 negara/wilayah yang emisi per kapitanya lebih kecil daripada Indonesia dan sisanya lebih besar. Dengan kata lain, Indonesia berada sedikit di bawah titik tengah daftar. Dibandingkan rata-rata dunia 4,6933 t, angka Indonesia lebih rendah sekitar 1,8283 t, atau kira-kira 61% dari nilai dunia.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — Carbon dioxide (CO2) emissions excluding LULUCF per capita (t CO2e/capita), EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5 (https://data.worldbank.org/indicator/EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5)*
Siapa di Ujung Atas dan Ujung Bawah
Pada sisi emisi paling kecil berjajar negara dan wilayah berpenduduk sangat sedikit serta negara berpendapatan rendah: Nauru dan Tuvalu 0,0 t, Guam dan Mikronesia 0,0018 t, Kepulauan Virgin Amerika Serikat 0,0019 t, lalu Somalia 0,0455 t, Kongo–Kinshasa 0,0568 t, dan Republik Afrika Tengah 0,0633 t. Pada sisi emisi paling besar terdapat Palau 82,8426 t, Qatar 47,3322 t, Bahrain 23,9 t, Kuwait 23,6727 t, Brunei 20,2427 t, Trinidad dan Tobago 19,5811 t, serta Australia 14,0974 t — umumnya ekonomi penghasil minyak dan gas atau wilayah kecil. Nilai Indonesia 2,865 t berada di bagian yang lebih rendah dari daftar, sekitar sepertujuh nilai Brunei, tetangga terdekat yang muncul di ujung tersebut. Pola serupa terlihat pada konsumsi energi per kapita: ujung terkecil diisi Lesotho 9,7273 kg, Timor Leste 60,7032 kg, Guinea-Bissau 65,4727 kg, dan Kepulauan Solomon 127,9601 kg, sedangkan ujung terbesar diisi Qatar 16.343,0404 kg, Islandia 15.996,6796 kg, Trinidad dan Tobago 10.590,4282 kg, dan Bahrain 10.511,613 kg. Indonesia 982,4149 kg (peringkat 81 dari 179) berada di antara keduanya, lebih dekat ke sisi yang hemat. Nilai-nilai ekstrem tersebut sebagian besar berasal dari negara atau wilayah berpenduduk sangat kecil atau dengan struktur energi khusus, sehingga sebaiknya tidak dibaca begitu saja sebagai "negara paling boros/paling bersih di dunia".
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5 dan Energy use (kg of oil equivalent per capita), EG.USE.PCAP.KG.OE (https://data.worldbank.org/indicator/EG.USE.PCAP.KG.OE)*
Perubahan dalam Satu Dekade
Emisi CO2 per kapita Indonesia naik dari 1,8564 t pada 2013 menjadi 2,865 t pada 2024, bertambah sekitar 1,0086 t atau kira-kira 54%, dengan kenaikan yang berlanjut sejak 2021 (2,2499 t), 2022 (2,5919 t), dan 2023 (2,7475 t). Konsumsi energi per kapita bergerak searah: dari 685,5713 kg pada 2012 menjadi 982,4149 kg pada 2023, bertambah sekitar 296,8 kg atau sekitar 43%. Sebaliknya, pangsa energi terbarukan dalam konsumsi energi final turun dari 36,0% pada 2010 menjadi 20,2% pada 2021 — berkurang 15,8 poin, dengan sedikit kenaikan sementara pada 2020 (21,9%) dari 19,8% pada 2019. Tutupan hutan menyusut bertahap dari 52,0936% pada 2012 menjadi 47,722% pada 2023, atau sekitar 4,37 poin. Satu-satunya indikator yang bergerak naik secara konsisten adalah akses listrik, dari 96,0% pada 2012 menjadi 99,4% pada 2023, meskipun sempat tercatat 100,0% pada 2022 dan 97,0% pada 2020.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5, EG.USE.PCAP.KG.OE, EG.FEC.RNEW.ZS, EG.ELC.ACCS.ZS, AG.LND.FRST.ZS (https://data.worldbank.org/indicator/EG.FEC.RNEW.ZS)*
Perbandingan dengan Negara Sepadan
Terhadap ekonomi besar dunia, emisi CO2 per kapita Indonesia 2,865 t adalah yang terendah dalam kelompok pembanding: AS 13,6196 t, Korea Selatan 11,3623 t, Tiongkok 9,3151 t, Jepang 7,8424 t, Jerman 6,944 t, Inggris 4,2241 t, dan Prancis 4,0036 t — kira-kira seperlima nilai AS dan sekitar 70% nilai Prancis. Pada konsumsi energi per kapita, jarak itu juga lebar: Indonesia 982,4149 kg berbanding Inggris 2.071,0233 kg, Jerman 2.824,5901 kg, Tiongkok 2.850,9415 kg, Jepang 3.005,899 kg, Prancis 3.184,7895 kg, Korea Selatan 5.438,7904 kg, dan AS 6.359,4398 kg — sekitar seperenam nilai AS. Pada pangsa energi terbarukan, posisi Indonesia justru paling tinggi di kelompok ini dengan 20,2%, di atas Jerman 17,6%, Prancis 16,2%, Tiongkok 15,2%, Inggris 12,2%, AS 10,9%, Jepang 8,8%, dan Korea Selatan 3,6%. Untuk tutupan hutan, Indonesia 47,722% berada di bawah Jepang 68,3958% dan Korea Selatan 64,1086%, tetapi di atas AS 33,8669%, Jerman 32,6789%, Prancis 32,4765%, Tiongkok 24,0319%, dan Inggris 13,2907%. Untuk akses listrik, ketujuh negara pembanding sama-sama 99,4%–100,0%; karena banyak negara bernilai persis 100,0%, selisih peringkat pada indikator ini tidak menyimpan makna dan sebaiknya tidak dibaca sebagai unggul atau tertinggal. Di lingkup tetangga, angka Brunei — CO2 20,2427 t, energi 8.658,007 kg, energi terbarukan 0,0% — berada di ujung yang sangat berbeda, sementara Timor Leste 60,7032 kg dan Papua Nugini (akses listrik 20,5%, hutan 78,9541%) menunjukkan kombinasi yang lain lagi.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5, EG.USE.PCAP.KG.OE, EG.FEC.RNEW.ZS, EG.ELC.ACCS.ZS, AG.LND.FRST.ZS (https://data.worldbank.org/indicator/EG.USE.PCAP.KG.OE)*
Cara Membaca Angka Ini
Emisi CO2 di sini dihitung tanpa LULUCF (penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan kehutanan) lalu dibagi jumlah penduduk, sehingga perubahan tutupan hutan tidak masuk ke angka tersebut; perhitungannya juga berbasis produksi, artinya emisi yang timbul saat memproduksi barang impor tidak dihitung di negara pemakainya. Konsumsi energi dinyatakan dalam kg setara minyak pada tingkat pasokan energi primer, sehingga sangat dipengaruhi struktur industri, iklim, dan kondisi geografis. Pangsa energi terbarukan mengukur porsi dalam konsumsi energi final, dan biomassa tradisional seperti kayu bakar dan arang ikut terhitung — hal yang cenderung membuat angka negara berpendapatan rendah tampak tinggi, dan perlu diingat saat membandingkannya dengan negara lain. Tutupan hutan dinyatakan sebagai persen dari luas daratan, sehingga maknanya berbeda antara negara luas dan negara kecil. Arah peringkat pun tidak seragam: pada CO2 dan konsumsi energi peringkat 1 adalah nilai terkecil, sedangkan pada energi terbarukan, akses listrik, dan tutupan hutan peringkat 1 adalah nilai terbesar. Tahun terbaru berbeda antar indikator — CO2 2024, konsumsi energi dengan seri berakhir 2023, akses listrik dan hutan 2023, serta energi terbarukan dengan seri berakhir 2021 — sehingga kelimanya sebaiknya tidak dibaca sebagai potret satu tahun yang sama. Semua angka merupakan estimasi yang diselaraskan untuk perbandingan internasional dan diperbarui secara tahunan, sehingga interpretasinya sebaiknya tidak dianggap final.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators — EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5, EG.USE.PCAP.KG.OE, EG.FEC.RNEW.ZS, EG.ELC.ACCS.ZS, AG.LND.FRST.ZS (https://data.worldbank.org/indicator/AG.LND.FRST.ZS)*
Emisi CO2 per kapita dalam peta dan grafik
| Peringkat | Negara / wilayah | t |
|---|---|---|
| 1 | Nauru | 0 |
| 2 | Tuvalu | 0 |
| 3 | Guam | 0 |
| 4 | Mikronesia | 0 |
| 5 | Kepulauan Virgin Amerika Serikat | 0 |
| 107 | Panama | 2.74 |
| 108 | Jamaika | 2.84 |
| 109 | Indonesia | 2.87 |
| 110 | Saint Kitts dan Nevis | 2.88 |
| 111 | Republik Dominika | 2.99 |
| 201 | Bahrain | 23.9 |
| 202 | Qatar | 47.33 |
| 203 | Palau | 82.84 |
Ujung nilai terkecil diisi Nauru dan Tuvalu 0,0 t serta Somalia 0,0455 t; ujung terbesar diisi Palau 82,8426 t, Qatar 47,3322 t, dan Bahrain 23,9 t. Indonesia berada di bagian yang lebih rendah dari daftar, di bawah Prancis 4,0036 t.
Garis tren menunjukkan kenaikan dari 1,8564 t pada 2013 menjadi 2,865 t pada 2024. Grafik batang memperlihatkan jarak yang sangat lebar antar negara, dari 0,0 t hingga 82,8426 t, sehingga sebagian besar negara berkumpul di ujung kiri.
Bandingkan negara
Penggunaan energi per kapita
| Peringkat | Negara / wilayah | kg setara minyak |
|---|---|---|
| 1 | Lesotho | 9.73 |
| 2 | Timor Leste | 60.7 |
| 3 | Guinea-Bissau | 65.47 |
| 4 | Komoro | 66.46 |
| 5 | Sudan Selatan | 68.66 |
| 79 | Guatemala | 934.93 |
| 80 | Ekuador | 949.27 |
| 81 | Indonesia | 982.41 |
| 82 | eSwatini | 1,007 |
| 83 | Republik Dominika | 1,012 |
| 177 | Trinidad dan Tobago | 10,590 |
| 178 | Islandia | 15,997 |
| 179 | Qatar | 16,343 |
Sisi terkecil mencakup Lesotho 9,7273 kg, Timor Leste 60,7032 kg, dan Kepulauan Solomon 127,9601 kg; sisi terbesar mencakup Qatar 16.343,0404 kg, Islandia 15.996,6796 kg, dan Trinidad dan Tobago 10.590,4282 kg. Indonesia berada di antara keduanya, lebih dekat ke sisi hemat.
Tren Indonesia naik dari 685,5713 kg pada 2012 menjadi 982,4149 kg pada 2023. Grafik batang menunjukkan selisih lebih dari 1.600 kali antara ujung terkecil dan terbesar, sehingga skala perlu dibaca hati-hati.
Pangsa energi terbarukan
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Kongo - Kinshasa | 96.3 |
| 2 | Somalia | 95.4 |
| 3 | Liberia | 92.8 |
| 4 | Gabon | 91.3 |
| 5 | Republik Afrika Tengah | 90.9 |
| 104 | Luksemburg | 20.5 |
| 105 | Bulgaria | 20.4 |
| 106 | Indonesia | 20.2 |
| 107 | Afganistan | 20 |
| 108 | Mauritania | 19.6 |
| 210 | Gibraltar | 0 |
| 211 | Qatar | 0 |
| 212 | Sint Maarten | 0 |
Peringkat teratas diisi Kongo–Kinshasa 96,3%, Somalia 95,4%, dan Liberia 92,8%; peringkat terbawah mencakup Qatar, Brunei, dan Bahrain yang tercatat 0,0%. Indonesia berada di tengah daftar, di atas Jepang 8,8% dan Korea Selatan 3,6%.
Garis tren turun dari 36,0% pada 2010 menjadi 20,2% pada 2021, dengan sedikit kenaikan pada 2020 (21,9%). Nilai tinggi di peta banyak berasal dari negara berpendapatan rendah yang masih memakai biomassa tradisional.
Akses terhadap listrik
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Albania | 100 |
| 2 | Aljazair | 100 |
| 3 | Andorra | 100 |
| 4 | Antigua dan Barbuda | 100 |
| 5 | Argentina | 100 |
| 138 | Bangladesh | 99.5 |
| 139 | India | 99.5 |
| 140 | Indonesia | 99.4 |
| 141 | Fiji | 99.3 |
| 142 | Guyana | 98.9 |
| 214 | Chad | 12 |
| 215 | Burundi | 11.6 |
| 216 | Sudan Selatan | 5.4 |
Puluhan negara berbagi nilai 100,0% di puncak daftar, sementara ujung bawah diisi Sudan Selatan 5,4%, Burundi 11,6%, dan Chad 12,0%. Indonesia 99,4% praktis berhimpitan dengan kelompok teratas.
Tren naik dari 96,0% pada 2012 menjadi 99,4% pada 2023, dengan penurunan sementara ke 97,0% pada 2020 dan catatan 100,0% pada 2022. Grafik batang di sini hampir rata di sisi atas, dan perbedaan nyata hanya muncul di sekelompok negara berpendapatan rendah.
Proporsi luas hutan
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Suriname | 94.45 |
| 2 | Mikronesia | 92.16 |
| 3 | Gabon | 91.18 |
| 4 | Palau | 90.54 |
| 5 | Kepulauan Solomon | 90.06 |
| 54 | Korea Utara | 49.55 |
| 55 | Ekuador | 49.55 |
| 56 | Indonesia | 47.72 |
| 57 | Vietnam | 47.45 |
| 58 | Austria | 47.24 |
| 212 | Monako | 0 |
| 213 | Nauru | 0 |
| 214 | Qatar | 0 |
Di puncak terdapat Suriname 94,4476%, Mikronesia 92,1571%, dan Gabon 91,1824%; di dasar terdapat Qatar, Nauru, Monako, dan Gibraltar yang tercatat 0,0%. Indonesia berada di sepertiga atas, di bawah Jepang 68,3958% namun di atas AS 33,8669%.
Garis tren menurun bertahap dari 52,0936% pada 2012 menjadi 47,722% pada 2023, sekitar 4,37 poin. Karena angka ini adalah rasio terhadap luas daratan, negara luas dan negara kecil tidak dapat diartikan dengan cara yang sama.